Selasa, 29 Desember 2009

tenggelam dalam hujan

tik tik tik...

sebuah malam yang dingin di bulan Agustus.
di luar hujan. aku sedang tiduran di kamarku saat itu. menikmati suasana hujan. aku berharap hujan terus turun. menghapus semua luka dan beban yang kurasakan. aku ingin hujan menghapus tangisku. menidurkanku dalam lagunya, membuatku terlena dalam buaiannya.
ya, hujan selalu membuatku terlena. seketika, aku pun tenggelam dalam hujan.

hujan masih terus terdengar. aku tak tahu itu mimpi atau bukan. tapi aku lihat hidup, dan ia tersenyum kepadaku. aku tak tahu itu di mana, yang bisa kulihat cuma putih. sang hidup pun memakai baju putih bersih, tampak berkilau membalut tubuhnya. ia tersenyum, memandangku lekat-lekat. seakan cuma aku satu-satunya objek yang bisa ia lihat di dunia. aku terperangah. tiba-tiba rasa marahku meluap. aku menuntut penjelasan.
"kemana saja kamu selama ini, hah?!" tuntutku tak sabar.

"aku ada di dekatmu. bahkan lebih dekat daripada yang kau tahu," hidup menjawab ringan.
"begitu? setelah semua ini kau masih bisa bilang begitu?"
hidup tetap tenang. "kamu hanya tidak sadar. dan aku hanya berubah. toh kamu sendiri yang merubahku."
"jadi kamu pikir kamu mengerti betapa beratnya semua perubahan itu bagiku?" suaraku mulai bergetar.
"kamu hanya takut dia berubah, lalu pergi, kan?" hidup tetap tersenyum, begitu tenang menjawabku yang marah.

"dia memang berubah! kamu tahu betapa aku berusaha membuatnya kembali! kamu tahu betapa kerasnya usahaku!" aku tidak terima, enak saja berkata setenang itu.
"tidak perlu takut kehilangan, tidak pelu takut akan perubahan."
air mata telah mengambang di tepi mataku. "tapi ia mungkin pergi... kamu tahu betapa beratnya itu."
"kamu tahu kan Tuhan membuat segalanya serba seimbang? jika ia pergi, kamu akan menemukan yang lain." ia tersenyum
"kalau dia mungkin pergi, mengapa Tuhan mempertemukan aku dengan dia?" air mataku mulai keluar, mengalir.

"Tuhan cuma mau kamu belajar dan dewasa. karenanya Tuhan mempertemukan kamu dengan dia, seperti Tuhan mempertemukan kita," hidup berkata simpatik, menenangkanku. kemudian ia berjalan menghampiriku, membelai rambutku.
"aku berputar seperti roda. kadang aku membuatmu ada di bawah, kadang aku membuatmu ada di atas. dan kamu tidak pernah tahu saatnya. nikmati saja, lalu bersyukur."
aku tersenyum, air mata masih tampak di ujung mataku
"kembalilah, dia menunggumu di sana," kata hidup bijak.
ia pun kembali tersenyum. lalu semua buyar.

tik tik tik tik...

di luar masih hujan. aku kembali menemukan diriku di atas tempat tidurku. tiba-tiba lagu You and Me memecah keheningan. telepon genggamku berbunyi. namanya tertera di layar. sejenak terbersit keinginan untuk mengabaikan panggilannya. namun ternyata gravitasinya terlalu besar. kusambut panggilannya.

"kenapa? tumben telepon?" sambutku dingin
"maaf..." ia berkata seakan cuma kata itu yang bisa keluar dari mulutnya.
"untuk apa minta maaf? kamu bilang kamu akan pergi?"
"maaf untuk segalanya. saya tidak pergi. saya tidak akan lari."
"tak apa. bahkan jika kamu memang ingin pergi, saya ikhlas," kataku luruh.
"hehehe saya yang ga ikhlas ninggalin kamu," ada senyum di suaranya. aku mendengar suara hujan di tempatnya menelepon.
"hei, di sana hujan? kamu ada dimana?" tanyaku penasaran.
"ya, memang hujan. lihat saja ke luar jendelamu," katanya ringan

tik tik tik tik tik...

aku melihat ke luar jendela. di luar masih hujan. dan ia ada di sana. di depan pagar rumahku. ia tersenyum, secerah biasanya. amat kontras dengan hujan yang turun. berlawanan dengan malam yang perlahan bertambah ganas.

"hei.. ada apa? mau masuk?" tanyaku, terlalu terperangah untuk berpikir logis.
"jangan, kamu tidur saja. saya di sini saja. tak perlu berpikir tentang saya, oke?"
"nanti kamu sakit. setidaknya minum saja dulu," aku khawatir mendengarnya begitu santai.
"tak perlu, tidur saja, yah? saya hanya sedang menikmati hujan kok."
"dasar sok kuat," suaraku mulai bergetar menahan tangis.
"tak apa kok," ia berkata lembut.
aku menangis, lalu tersenyum. cuma 2 kata yang bisa keluar dari mulutku. "terima kasih..."
"sama-sama, hujanku. nah, sekarang tidur saja. selamat tidur, hujanku," katanya persis sama seperti waktu itu.
"ya, selamat malam," aku menutup panggilannya sambil terus melihatnya di balik jendela.

tik tik tik...
hujan perlahan berubah menjadi gerimis. malam pun semakin tua.
dan ia tetap di sana. tersenyum.

lalu aku melihatnya tenggelam dalam hujan....



bogor, 2 Agustus 2009. 15:25. hari yang amat cerah.

Tidak ada komentar: