Selasa, 29 Desember 2009

kala hujan terus mengalir

New York, 14 Oktober 2009

Sebuah malam yang dingin di musim gugur. Jam menunjukkan pukul 00.15, dan mata saya masih menolak untuk menutup. Malam ini hujan turun rintik-rintik, mengingatkan saya akan bayangan seseorang. Dengan senyum yang selalu mengembang tanpa lelah. Kadang bayangan itu menekuk bibir untuk menunjukkan kekesalan. Dan kadang sekali, kelenjar air matanya tak kuat bertahan. Namun entah mengapa itu semua tak pernah membuat saya bosan. Ya, cuma bayangan kamu yang ada di kepala saya. Bayangan yang sudah 6 bulan lamanya tak jadi nyata, meninggalkan 1 rasa yang tidak mau hilang.

6 bulan sudah sejak kepindahan saya ke New York. 6 bulan sejak kamu dan teman-teman lain mengantar saya ke bandara. 6 bulan sejak terakhir kali saya melihat kamu mati-matian menahan tangis dan tersenyum buat saya. 6 bulan sejak pertama kali saya mengacak rambut kamu. 6 bulan. Dan saya belum menemukan sahabat sebaik kamu di sini. Ya, saya tahu kamu lebih dari sahabat. Kamu itu seperti soulmate saya. Kita ada untuk saling melengkapi satu sama lain. Yah, namun jika kata ‘soulmate’ terdengar berlebihan, anggap saja kamu ‘sahabat’ saya. Saya tidak merasa kita perlu ikatan, bahkan pengakuan, untuk tahu perasaan masing-masing. Saya takut ikatan hanya akan membuat semua jadi buruk. Dan kamu nampaknya sependapat akan hal ini.

Namun kali ini saya jadi egois. Saya ingin ikatan, untuk sekedar menuntut dan meminta lebih. Sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang sahabat. Amplitudo kita besar. Saya perlu menempuh jarak beribu mil dan memerlukan waktu belasan jam untuk mencapai kamu. Begitu pula kamu. Dan saya tidak tahu kapan amplitudo itu akan mengecil. Entah 6 bulan lagi, 1 tahun lagi, 3 tahun lagi, belasan tahun lagi, puluhan tahun lagi, atau mungkin tidak sama sekali. Dan itu menyiksa saya perlahan. Entah kamu juga merasakan ini atau tidak.

Seminggu penuh ini terasa betul amplitudo yang besar itu. Kamu tidak memberi saya kabar sedikit pun. Tidak sms, tidak e-mail, apalagi telepon. Saya mencoba mengerti kesibukan dan berbagai aktivitas yang kamu geluti, namun tidak adakah secuil waktu buat saya? Ah, kamu sahabat saya. Saya sahabat kamu. Dan sahabat yang baik tidak menuntut. Oke. Saya mengerti.

Tik tik tik tik tik…..

Hujan terus turun, membasahi setiap jengkal memori saya. Saya ingin kembali. Untuk pertama kalinya selama 6 bulan ini saya benar-benar merasa ingin kembali. Kepada kamu. Kepada teman-teman yang lain. Kepada kehidupan saya yang lama. Di mana semua tidak pernah terasa sesulit ini. Namun saya selalu tahu bahwa mesin waktu tidak —atau mungkin belum— eksis. Maka saya hanya bisa terus berjalan, tanpa kembali pada bayangan. Saya kembali mengalihkan pandangan menuju jam. 01.13. Ah, larut sekali, dan saya tak juga menemukan keinginan untuk tidur. Iseng, saya menyalakan laptop. Berniat pergi ke dunia dimana waktu dan jarak tidak akan menjadi pembatas semu.

Saya buka program Yahoo! Messenger, mencoba menemukan sebaris kata yang bisa membasuh hati. Namun kalinda_aruna, kata yang saya cari itu tak juga muncul. Ah, di sana sekarang sudah pukul 1 siang. Pantas saja jika kamu kembali menggeluti aktivitas gilamu. Mata saya terus terpaku pada layar laptop. Terus mengembangkan ekspesktasi yang makin lama makin menggila. Hingga akhirnya ekspektasi itu menemui akhirnya. Ya, muncullah sebaris kata itu.

kalinda_aruna: hei, hujan!
karan_ranu: sombong hahahaha
kalinda_aruna: hehehe maaf, saya hanya kabur sejenak, Ranu. Menggila dengan berbagai kesibukan.
karan_ranu: ya, gapapa kok. saya kangen...

Akhirnya ekspektasi saya terbayar, kamu akhirnya muncul. Bayangan itu perlahan jadi nyata, walau masih setengah semu. Ah, menunggu balasanmu saja rasanya menyebalkan!

kalinda_aruna: saya juga :)

Lihat? Cuma 2 kata itu yang saya tunggu dari kamu. Semudah itu, sesederhana itu, sesingkat itu saja. Saya tidak perlu sesuatu yang rumit. 2 kata itu mampu menjungkirbalikkan mood saya yang super jelek. Kali ini saya benar – benar merasa amplitudo itu mengecil perlahan. Meninggalkan sejengkal jarak yang sementara ini tak bisa hilang. Jarak yang saya yakin akan kembali hilang, entah kapan. Dan saya tahu bahwa kamu juga menunggu terjadinya hal itu.

karan_ranu: Kal, di sini hujan terus turun. Dia ga mau berhenti mengalir.
kalinda_aruna: di sini juga gitu kok. Mungkin nantinya hujan ini berujung di tempat yang sama?

Ya, mungkin hujan ini nantinya berujung di tempat yang sama. Saya akan membiarkan hujan itu terus turun, dan tidak berhenti mengalir. Setidaknya untuk saat ini.

Dan itu lebih dari cukup untuk saya.....


Bogor, 14 November 2009. malam di mana hujan turun dan berhenti.

Tidak ada komentar: